Category: Uncategorized

  • Kapolda Jabar Kunjungi Objek Wisata Grand canyon Pastikan Keamanan wisatawan

    Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto, S.I.K., M.H. melaksanakan pengecek

    Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto, S.I.K., M.H. melaksanakan pengecekan keamanan di kawasan wisata Green Canyon, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (5/9/2026).

    Dalam kegiatan tersebut, Kapolda Jabar didampingi langsung oleh Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari, S.H., S.I.K., M.Si., M.I.K. bersama jajaran personel Polres Pangandaran.

    Pengecekan dilakukan untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya di kawasan wisata yang menjadi salah satu destinasi unggulan Kabupaten Pangandaran.

    Kapolda Jabar meninjau secara langsung kondisi kawasan wisata sekaligus melihat kesiapan personel kepolisian dalam memberikan pelayanan dan pengamanan kepada masyarakat maupun wisatawan.

    Kehadiran jajaran kepolisian di kawasan wisata menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengunjung, sekaligus mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan serta kejadian yang dapat membahayakan keselamatan wisatawan.

    Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari turut memastikan personel di lapangan melaksanakan tugas secara optimal, terutama dalam memberikan pelayanan, pengamanan dan imbauan kepada masyarakat yang beraktivitas di kawasan wisata.

    Polres Pangandaran terus meningkatkan kesiapsiagaan pengamanan di sejumlah destinasi wisata, termasuk Green Canyon, seiring tingginya aktivitas masyarakat dan wisatawan di wilayah Kabupaten Pangandaran.

    “Keamanan kawasan wisata merupakan salah satu perhatian utama jajaran Polres Pangandaran.” ujar Kapolda Jabar

    “Polres Pangandaran siap memberikan pelayanan dan pengamanan kepada masyarakat serta wisatawan. Kami mengimbau kepada seluruh pengunjung agar selalu memperhatikan keselamatan, mematuhi aturan yang berlaku dan mengikuti arahan petugas maupun pengelola wisata,” ujar AKBP Ikrar Potawari.

    Pengecekan yang dilakukan Kapolda Jabar menjadi bentuk komitmen Polri dalam memastikan kawasan wisata di Kabupaten Pangandaran tetap aman, tertib dan kondusif.

    Polres Pangandaran juga mengajak masyarakat dan wisatawan untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban serta keselamatan selama berada di kawasan wisata Green Canyon Pangandaran.

  • Kapolda Jabar Hadiri Undangan Pangandaran Air Show 2026

    Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto, S.I.K., M.H., menghadiri undangan kegiatan Pangandaran Air Show 2026 yang digelar di Susi International Beach Strip, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan kedirgantaraan bergengsi ini diselenggarakan bersama tokoh nasional sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014–2019, Susi Pudjiastuti.

    ​Turut hadir dalam acara pada hari ini sejumlah pejabat tinggi, tokoh penting, dan jajaran Forkopimda. Di antaranya adalah Gubernur Jawa Barat, Irjen Kemenimipas Komjen Pol. Dr. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., Wakapolri periode 2011–2013 Komjen Pol. (Purn) Drs. Nanan Soekarna, serta Komandan Lanud (Danlanud) Wiriadinata Tasikmalaya.

    ​Dari jajaran Forkopimda Kabupaten Pangandaran, hadir secara langsung Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari, S.H., S.I.K., M.Si., M.I.K., beserta Dandim 0625/Pangandaran. Acara ini juga mengundang antusiasme para pengusaha kedirgantaraan Indonesia yang turut meramaikan dan mendukung jalannya kegiatan.

    ​Kehadiran Kapolda Jabar beserta seluruh jajaran kepolisian dan pejabat terkait menjadi wujud nyata dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan penerbangan sekaligus event pariwisata berskala nasional di wilayah hukum Polres Pangandaran.

    ​Pangandaran Air Show 2026 merupakan kegiatan yang digagas oleh Susi Air dan berlangsung selama 4–6 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 60 pesawat dan paramotor dari berbagai organisasi, klub, serta komunitas penerbangan di Indonesia.

    ​Pada acara utama Sabtu (5/9/2026), masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikan berbagai atraksi udara, termasuk pertunjukan aerobatik dan manuver penerbangan lainnya yang dilakukan oleh pilot serta atlet profesional.

    ​Selain atraksi udara, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Joy Flight yang dijadwalkan mulai pukul 16.00 WIB serta Public Walkaround pada pukul 17.00 WIB, sehingga masyarakat dapat melihat pesawat-pesawat tersebut dari jarak dekat.

    “​Sinergitas antara Polri, TNI, pemerintah daerah, penyelenggara, dan seluruh tokoh yang hadir diharapkan semakin memperkuat kolaborasi dalam menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan masyarakat.” ujar Kapolda Jabar.

    ​Pangandaran Air Show 2026 tidak hanya menjadi ajang edukasi untuk memperkenalkan dunia penerbangan, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk mendorong sektor pariwisata dan perekonomian lokal. Selama kegiatan berlangsung, jajaran Polres Pangandaran bersama unsur terkait terus bersiaga melakukan pengamanan maksimal guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan kondusif

  • Kapolda Jabar Kunjungan Kerja ke Polres Pangandaran, Tekankan Personil Pahami Permasalahan Masyarakat

    Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto, S.I.K., M.H., melaksanakan kunjungan kerja ke Markas Kepolisian Resor (Polres) Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (5/9/2026).

    Kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari agenda Kapolda Jabar dalam meninjau secara langsung jajaran kepolisian di wilayah Jawa Barat, sekaligus melihat kondisi serta dinamika keamanan dan ketertiban masyarakat di masing-masing wilayah hukum.

    Kedatangan Kapolda Jabar disambut langsung oleh Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari, S.H., S.I.K., M.Si., M.I.K., beserta jajaran Pejabat Utama (PJU) dan personel Polres Pangandaran.

    Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Jabar melakukan silaturahmi dan memberikan arahan kepada jajaran Polres Pangandaran terkait pelaksanaan tugas kepolisian, peningkatan pelayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

    Kunjungan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan sinergitas antara Polda Jawa Barat dengan Polres Pangandaran dalam menghadapi berbagai dinamika kamtibmas, khususnya di wilayah yang memiliki karakteristik sebagai daerah tujuan wisata.

    Kapolda Jabar menekankan pentingnya kehadiran polisi di tengah masyarakat serta kemampuan personel dalam memahami persoalan dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan kepolisian yang responsif dan humanis.

    Kapolres Pangandaran AKBP Ikrar Potawari menyampaikan bahwa jajaran Polres Pangandaran siap menindaklanjuti setiap arahan dan kebijakan pimpinan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan serta menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat maupun wisatawan.

    Kunjungan kerja Kapolda Jabar di Polres Pangandaran diharapkan semakin memperkuat soliditas internal, meningkatkan profesionalisme personel, serta memperkuat sinergitas dengan pemerintah daerah, TNI, dan seluruh elemen masyarakat.

    Dengan terjalinnya koordinasi yang baik, Polres Pangandaran berkomitmen terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menjaga Kabupaten Pangandaran tetap aman, tertib dan kondusif.

  • pelatihan paham ai polresta bogor kota

    Polresta Bogor Kota menggelar Pelatihan Paham Artificial Intelligence (AI) bagi siswa-siswi SMA/SMK di Kota Bogor sebagai upaya meningkatkan literasi digital generasi muda. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap dan bergantian di berbagai sekolah agar dapat menjangkau lebih banyak pelajar.

    Dalam pelatihan, Ipda Gerry Ramdhani bersama Tim Trainer memberikan materi mengenai pengenalan AI, manfaat dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dunia pendidikan, serta perkembangan teknologi digital. Para siswa juga dibekali pemahaman tentang penggunaan AI secara bijak, aman, bertanggung jawab, dan beretika untuk mendukung proses belajar, meningkatkan kreativitas, serta mengolah informasi.

    Selain membahas manfaat AI, peserta juga diedukasi mengenai risiko penyalahgunaan teknologi, seperti penyebaran hoaks, manipulasi informasi, dan potensi kejahatan di ruang digital. Melalui program ini, Polresta Bogor Kota berharap dapat mencetak generasi muda yang cerdas digital, kritis, kreatif, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi AI secara positif dan produktif.

  • Kapolri Pimpin Apel Akbar 5.000 Peserta Kemah Nasional Pramuka PUI di Sukabumi

    SUKABUMI – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memimpin Apel Akbar yang diikuti sekitar 5.000 peserta dalam rangkaian Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 di Selabintana Camping Ground, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

    Dalam kesempatan tersebut, Kapolri mengajak generasi muda untuk terus memperkuat persatuan, menjaga nilai-nilai kebangsaan serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

    Menurut Kapolri, kegiatan kepanduan seperti Kemah Nasional Pramuka PUI memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Selain mengajarkan kedisiplinan dan kepemimpinan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

    “Generasi muda merupakan bagian penting dari masa depan bangsa. Karena itu, harus terus kita bekali dengan nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, kepemimpinan dan semangat untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” kata Jenderal Listyo Sigit dalam sambutannya.

    Kapolri juga mengapresiasi penyelenggaraan Kemah Nasional Pramuka PUI yang mempertemukan ribuan pelajar, mahasiswa, anggota Pramuka, pemuda dan guru dalam satu kegiatan.

    “Semangat kebersamaan seperti ini harus terus kita jaga. Perbedaan bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.

    Kapolri berharap para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman selama mengikuti perkemahan, tetapi juga membawa nilai-nilai positif tersebut ke lingkungan sekolah, kampus, keluarga dan masyarakat.

    “Kita berharap adik-adik sekalian tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter kuat, cinta tanah air, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta siap menjadi pemimpin dan memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara,” tutur Kapolri.

    Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 digelar pada 2-4 September 2026. Apel Akbar bersama Kapolri diikuti Pramuka PUI, pelajar, mahasiswa, Brigade Intisab, SCB, Pemuda PUI dan Guru PUI.

    Ketua Umum DPP PUI H Raizal Arifin mengatakan Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan perkemahan, tetapi menjadi bagian dari proses kaderisasi generasi muda.

    “Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan berkemah, tetapi bagian dari ikhtiar kaderisasi untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter, memiliki jiwa kepemimpinan, kokoh spiritualitasnya, cinta Indonesia, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” kata Raizal.

    Menurutnya, kegiatan kepanduan memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, persaudaraan hingga kepedulian terhadap lingkungan.

    “Kami ingin anak-anak muda PUI tumbuh menjadi generasi yang mampu memimpin dirinya, memimpin lingkungannya, dan pada waktunya mampu memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

    Selain Apel Akbar, Kemah Nasional Pramuka PUI juga diisi Jumpa Tokoh bersama Ketua Majelis Syura PUI KH Nurhasan Zaidi, Karang Pamitran bersama Kak H Nurhamid dari Kwarnas Gerakan Pramuka, KH Nurhasan Zaidi serta Dr KH Munandi Saleh.

    Peserta juga mengikuti talkshow “Bangga Menjadi PUI” yang menghadirkan Kak Irfan Ahmad Fauzi, Kak KH Maman Abdurrahman, dan Kak Dr Kana Kurniawan.

    Pembinaan spiritual turut menjadi bagian kegiatan melalui qiyamul lail, salat Subuh, tausyiah dan dzikir Misbahul Falah. Sementara kepedulian lingkungan diwujudkan melalui Bakti Lingkungan.

    Sisi kreativitas peserta juga disalurkan melalui berbagai kreasi, pentas seni hingga penampilan Drumband PUI.

    Raizal mengatakan seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk karakter generasi muda secara menyeluruh.

    “Pramuka bukan hanya tentang kegiatan di alam terbuka. Di dalamnya ada pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, persaudaraan, kecintaan kepada lingkungan, dan semangat pengabdian,” tuturnya.

    Dia berharap Kemah Nasional tersebut melahirkan generasi muda yang bangga menjadi bagian dari PUI, bangga menjadi Pramuka, mencintai Indonesia dan siap mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

    “Kami berharap dari Kemah Nasional ini lahir generasi muda yang bangga menjadi bagian dari PUI, bangga menjadi Pramuka, mencintai Indonesia, serta siap mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa,” pungkasnya.

  • Kapolri: Pramuka Jadi Wadah Bentuk Karakter Generasi Muda di Era Perubahan

    SUKABUMI – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menilai kegiatan kepanduan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Hal itu disampaikan saat memimpin Apel Akbar Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 di Selabintana Camping Ground, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

    Apel Akbar tersebut diikuti sekitar 5.000 peserta dari berbagai unsur, mulai Pramuka PUI, pelajar, mahasiswa, Brigade Intisab, SCB, Pemuda PUI hingga Guru PUI.

    Dalam sambutannya, Kapolri menyebut generasi muda membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter. Menurutnya, nilai-nilai yang ditanamkan melalui kegiatan kepanduan dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan ke depan.

    “Pramuka merupakan salah satu wadah yang sangat baik untuk membentuk karakter generasi muda. Di sini kita belajar disiplin, kepemimpinan, kebersamaan dan bagaimana memberikan pengabdian kepada masyarakat,” kata Jenderal Listyo Sigit.

    Kapolri juga mengingatkan peserta agar tidak hanya menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi turut mengambil peran dalam memberikan solusi bagi persoalan bangsa.

    “Generasi muda harus terus belajar, beradaptasi dan mempersiapkan diri. Tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat, memiliki semangat kebangsaan dan mampu bekerja sama,” ujarnya.

    Jenderal Listyo Sigit mengapresiasi Kemah Nasional Pramuka PUI yang mempertemukan ribuan generasi muda dalam berbagai kegiatan pembinaan, kepemimpinan, keagamaan, kreativitas dan pengabdian.

    Ia berharap semangat yang dibangun selama kegiatan tidak berhenti di lokasi perkemahan, tetapi diterapkan peserta ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

    “Saya berharap apa yang didapatkan selama kegiatan ini dapat menjadi bekal untuk terus berkontribusi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, kampus maupun masyarakat,” tutur Kapolri.

    Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 digelar pada 2-4 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan dan kaderisasi generasi muda melalui kepanduan, kebangsaan, keagamaan, kepemimpinan, kreativitas dan pengabdian.

    Ketua Umum DPP PUI H Raizal Arifin mengatakan Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan berkemah, melainkan bagian dari ikhtiar kaderisasi.

    “Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan berkemah, tetapi bagian dari ikhtiar kaderisasi untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter, memiliki jiwa kepemimpinan, kokoh spiritualitasnya, cinta Indonesia, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” kata Raizal.

    Berbagai agenda digelar selama kegiatan, di antaranya Jumpa Tokoh, Karang Pamitran dan talkshow “Bangga Menjadi PUI”.

    Peserta juga mengikuti kegiatan spiritual seperti qiyamul lail, salat Subuh, tausyiah dan dzikir Misbahul Falah. Sementara kepedulian lingkungan diwujudkan melalui Bakti Lingkungan.

    Sisi kreativitas peserta disalurkan melalui berbagai kreasi, pentas seni hingga penampilan Drumband PUI.

    Raizal berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat, jiwa kepemimpinan dan kepedulian terhadap bangsa.

    “Pramuka bukan hanya tentang kegiatan di alam terbuka. Di dalamnya ada pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, persaudaraan, kecintaan kepada lingkungan, dan semangat pengabdian,” tuturnya.

  • Kapolri Kumpulkan 5.000 Generasi Muda di Sukabumi, Tekankan Pentingnya Kebersamaan

    SUKABUMI – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengumpulkan sekitar 5.000 generasi muda dalam Apel Akbar Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 di Selabintana Camping Ground, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

    Ribuan peserta yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari Pramuka PUI, pelajar, mahasiswa, Brigade Intisab, SCB, Pemuda PUI hingga Guru PUI.

    Dalam sambutannya, Jenderal Listyo Sigit menekankan pentingnya membangun kebersamaan dan persatuan di tengah keberagaman generasi muda. Menurutnya, semangat tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.

    “Generasi muda harus terus membangun kebersamaan, menjaga persatuan dan memiliki semangat untuk bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,” kata Jenderal Listyo Sigit dalam sambutannya.

    Kapolri juga mengapresiasi pelaksanaan Kemah Nasional Pramuka PUI yang tidak hanya menjadi kegiatan kepanduan, tetapi turut memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar mengenai kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab dan pengabdian.

    “Kegiatan seperti ini menjadi ruang yang sangat baik untuk membentuk karakter, melatih kepemimpinan dan membangun rasa tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam perjalanan ke depan,” ujarnya.

    Jenderal Listyo Sigit berharap para peserta dapat menjadi generasi yang mampu menjaga nilai-nilai kebangsaan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

    “Adik-adik semua adalah bagian dari generasi penerus. Persiapkan diri dengan baik, terus belajar, terus berinovasi dan jadilah generasi yang mampu membawa Indonesia menjadi semakin maju,” tutur Kapolri.

    Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 digelar pada 2-4 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan dan kaderisasi generasi muda melalui kepanduan, kebangsaan, keagamaan, kepemimpinan, kreativitas dan pengabdian.

    Ketua Umum DPP PUI H Raizal Arifin mengatakan Kemah Nasional Pramuka PUI dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan perkemahan, tetapi sebagai bagian dari proses kaderisasi.

    “Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan berkemah, tetapi bagian dari ikhtiar kaderisasi untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter, memiliki jiwa kepemimpinan, kokoh spiritualitasnya, cinta Indonesia, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” kata Raizal.

    Menurutnya, berbagai kegiatan selama perkemahan memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, memimpin serta membangun kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

    Selain Apel Akbar, peserta mengikuti sejumlah agenda seperti Jumpa Tokoh, Karang Pamitran dan talkshow “Bangga Menjadi PUI”.

    Kegiatan juga diisi pembinaan spiritual melalui qiyamul lail, salat Subuh, tausyiah dan dzikir Misbahul Falah. Peserta turut mengikuti Bakti Lingkungan serta berbagai kegiatan kreativitas berupa pentas seni, kreasi peserta dan penampilan Drumband PUI.

    Raizal mengatakan nilai-nilai yang ditanamkan selama Kemah Nasional diharapkan dapat terus dibawa peserta setelah kembali ke lingkungan masing-masing.

    “Pramuka bukan hanya tentang kegiatan di alam terbuka. Di dalamnya ada pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, persaudaraan, kecintaan kepada lingkungan, dan semangat pengabdian,” tuturnya.

    Dia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi muda yang bangga menjadi bagian dari PUI, bangga menjadi Pramuka, mencintai Indonesia serta siap mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

    “Kami berharap dari Kemah Nasional ini lahir generasi muda yang bangga menjadi bagian dari PUI, bangga menjadi Pramuka, mencintai Indonesia, serta siap mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa,” pungkasnya.

  • Kapolri di Hadapan 5.000 Peserta Kemah Nasional PUI Sukabumi: Generasi Muda Harus Siap Jadi Pemimpin

    SUKABUMI – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengajak sekitar 5.000 peserta Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 untuk mempersiapkan diri menjadi generasi penerus sekaligus calon pemimpin bangsa.

    Pesan itu disampaikan Listyo Sigit saat memimpin Apel Akbar Kemah Nasional Pramuka PUI di Selabintana Camping Ground, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

    Di hadapan ribuan peserta yang terdiri dari Pramuka PUI, pelajar, mahasiswa, Brigade Intisab, SCB, Pemuda PUI dan Guru PUI, Kapolri menekankan pentingnya membangun karakter generasi muda sejak dini.

    Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda ke depan akan semakin kompleks. Karena itu, pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan serta semangat kebangsaan menjadi bekal penting.

    “Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Karena itu harus dipersiapkan sejak sekarang, bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga karakter, kedisiplinan, kepemimpinan dan rasa cinta tanah air,” kata Jenderal Listyo Sigit dalam sambutannya.

    Kapolri juga mengapresiasi kegiatan Kemah Nasional Pramuka PUI yang mempertemukan ribuan anak muda dari berbagai latar belakang.

    “Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak muda belajar bagaimana bekerja sama, saling menghargai, membangun kebersamaan dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat,” ujarnya.

    Jenderal Listyo berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti Kemah Nasional tidak berhenti ketika peserta meninggalkan lokasi perkemahan.

    “Saya berharap nilai-nilai yang didapat selama kegiatan ini bisa dibawa kembali ke lingkungan masing-masing dan menjadi bekal untuk terus berkontribusi bagi masyarakat, bangsa dan negara,” tutur Kapolri.

    Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 digelar pada 2-4 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan dan kaderisasi generasi muda melalui kepanduan, kebangsaan, keagamaan, kepemimpinan, kreativitas dan pengabdian.

    Ketua Umum DPP PUI H Raizal Arifin mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang sebagai ruang kaderisasi bagi generasi muda.

    “Kemah Nasional Pramuka PUI bukan sekadar kegiatan berkemah, tetapi bagian dari ikhtiar kaderisasi untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter, memiliki jiwa kepemimpinan, kokoh spiritualitasnya, cinta Indonesia, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” kata Raizal.

    Beragam kegiatan digelar selama perkemahan. Mulai dari Jumpa Tokoh, Karang Pamitran, talkshow “Bangga Menjadi PUI”, hingga kegiatan pembinaan spiritual seperti qiyamul lail, salat Subuh, tausyiah dan dzikir Misbahul Falah.

    Peserta juga mengikuti Bakti Lingkungan serta berbagai kegiatan kreativitas seperti pentas seni, kreasi peserta dan penampilan Drumband PUI.

    Raizal menyebut nilai-nilai kepanduan diharapkan dapat menjadi bekal peserta dalam kehidupan sehari-hari.

    “Pramuka bukan hanya tentang kegiatan di alam terbuka. Di dalamnya ada pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, persaudaraan, kecintaan kepada lingkungan, dan semangat pengabdian,” tuturnya.

    Dia berharap Kemah Nasional Pramuka PUI melahirkan generasi muda yang memiliki karakter kuat sekaligus siap mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

    “Kami berharap dari Kemah Nasional ini lahir generasi muda yang bangga menjadi bagian dari PUI, bangga menjadi Pramuka, mencintai Indonesia, serta siap mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa,” pungkasnya.

  • PATROLI KRYD RESIMEN I PASUKAN PELOPOR KORBRIMOB POLRI BERSAMA TIM GABUNGAN AMANKAN 6 ANGGOTA GENG MOTOR DAN SENJATA TAJAM DI BOGOR KOTA

    Kota Bogor – 21 Agustus 2026 Personel Resimen I Pasukan Pelopor Korbrimob Polri melaksanakan kegiatan Patroli Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) gabungan di wilayah hukum Polresta Bogor Kota. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sekaligus mengantisipasi potensi kejahatan jalanan, tawuran, serta balap liar.

    Tim Patroli KRYD Resimen I Pasukan Pelopor yang dipimpin oleh IPDA Kisbandriyo menerjunkan 10 personel dengan perlengkapan pengamanan lengkap. Pelaksanaan patroli diawali dengan apel gabungan bersama jajaran TNI, Polresta Bogor Kota, dan Satpol PP di Mapolresta Bogor Kota yang dipimpin oleh Wakasat Narkoba AKP Agus K.

    Dantim Patroli KRYD Resimen I Pasukan Pelopor IPDA Kisbandriyo mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen kepolisian dalam memberikan rasa aman secara langsung kepada masyarakat. “Kehadiran kami di lapangan bukan hanya sekadar patroli rutin, tetapi juga bentuk respons cepat dan kesiapsiagaan dalam menjaga ketertiban wilayah agar masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang,” ujarnya.
    Selain menyisir kawasan strategis seperti Tugu Kujang, Lapangan Sempur, dan wilayah Tajur, tim patroli juga membubarkan kerumunan pemuda yang kedapatan mengonsumsi minuman keras di Taman Sempur dan Lodaya. Pada Sabtu dini hari, merespons laporan masyarakat terkait pengrusakan kendaraan oleh geng motor, tim dengan cepat melakukan pengejaran dan berhasil menangkap 6 pelaku beserta barang bukti 6 senjata tajam dan 4 unit sepeda motor yang langsung diserahkan ke Polsek Bogor Timur. “Sinergitas TNI, Polri, dan pemerintah daerah akan terus kita perkuat demi menekan angka kriminalitas jalanan,” tambah IPDA Kisbandriyo.
    Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, Resimen I Pasukan Pelopor Korbrimob Polri berharap situasi kamtibmas di wilayah hukum Polresta Bogor Kota tetap terjaga kondusif dan mempererat silaturahmi antar-instansi dalam melayani masyarakat.

  • Pelayanan Perpustakaan yang Efektif: Bukan Sekadar Cepat, tetapi Mampu Memenuhi Kebutuhan Pengunjung

    Perpustakaan sering kali dipandang sederhana sebagai tempat untuk membaca dan meminjam buku. Namun, bagi pengunjung yang datang dengan kebutuhan berbeda-beda, pelayanan perpustakaan sesungguhnya memiliki peran yang jauh lebih besar. Pengunjung tidak hanya membutuhkan buku, tetapi juga membutuhkan informasi, kemudahan dalam menemukan koleksi, kepastian dalam proses peminjaman, hingga bantuan ketika mengalami kesulitan.

    Karena itu, menurut saya, pelayanan perpustakaan yang efektif tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat petugas menyelesaikan proses peminjaman atau pengembalian buku. Pelayanan yang efektif justru dapat dilihat dari sejauh mana pengunjung memperoleh apa yang mereka butuhkan dengan tepat, jelas, mudah, dan nyaman.

    Pandangan tersebut saya dapatkan selama melaksanakan Kuliah Kerja Lapang (KKL) di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bogor. Selama KKL, saya lebih banyak ditempatkan di ruang baca, yaitu Ruang Anak, Ruang Saleh, dan Ruang Lasmi. Di tempat tersebut, saya terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan, mulai dari membantu proses peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan buku, mencatat buku yang digunakan untuk membaca di tempat, menata koleksi, hingga membantu pengunjung menemukan buku yang mereka cari.

    Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa pelayanan yang terlihat sederhana dari sisi pengunjung sebenarnya didukung oleh berbagai proses yang harus dilakukan secara teliti.

    Prosedur sebagai Dasar Pelayanan

    Dalam pelayanan perpustakaan, prosedur merupakan bagian yang sangat penting. Setiap buku yang dipinjam, dikembalikan, atau diperpanjang perlu dicatat agar status koleksi dan data pengunjung dapat diketahui dengan baik. Buku yang selesai digunakan untuk membaca di tempat juga perlu dikembalikan dan ditata sesuai dengan tempatnya agar dapat ditemukan kembali oleh pengunjung lain.

    Prosedur tersebut mungkin terlihat sebagai pekerjaan rutin. Namun, apabila tidak dilakukan dengan baik, masalah kecil dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Data peminjaman yang tidak tercatat dengan benar, misalnya, dapat menyebabkan ketidaksesuaian informasi mengenai status sebuah buku.

    Dari sini saya melihat bahwa efektivitas pelayanan tidak dapat dipisahkan dari ketertiban administrasi. Pelayanan yang baik membutuhkan prosedur yang jelas, tetapi prosedur tersebut juga harus dijalankan dengan konsisten dan teliti.

    Ketika Teknologi Membantu, tetapi Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah

    Perkembangan teknologi turut mengubah cara pelayanan perpustakaan dilakukan. Selama KKL, saya mengenal penggunaan INLISLite dalam pengelolaan data pelayanan perpustakaan. Selain itu, terdapat OPAC (Online Public Access Catalog) yang dapat digunakan untuk membantu mencari koleksi dan mengetahui informasi mengenai ketersediaan serta lokasi buku.

    Kehadiran teknologi tentu memberikan kemudahan. Petugas tidak harus mencari seluruh informasi secara manual, sementara pengunjung dapat memperoleh informasi mengenai koleksi dengan lebih praktis.

    Namun, pengalaman di lapangan membuat saya menyadari bahwa teknologi bukan berarti semua persoalan otomatis selesai.

    Salah satu contohnya terjadi ketika informasi dalam OPAC menunjukkan bahwa sebuah buku tersedia, tetapi buku tersebut tidak langsung ditemukan di rak sesuai dengan lokasi yang tercantum dalam sistem. Buku dapat saja terselip, belum dikembalikan ke tempat semula, atau berada di rak yang berbeda.

    Dalam kondisi seperti itu, informasi digital tetap membutuhkan pemeriksaan secara langsung. Petugas harus turun ke lapangan, mencari kembali koleksi, dan memastikan apakah buku tersebut benar-benar tersedia.

    Bagi saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Sistem dapat memberikan informasi awal, tetapi petugas tetap memiliki peran penting untuk memastikan bahwa informasi tersebut sesuai dengan kondisi sebenarnya.

    Ketika Pengunjung Tidak Hanya Membutuhkan Informasi

    Membantu pengunjung mencari buku menjadi salah satu pengalaman yang cukup menarik bagi saya. Secara sederhana, pengunjung dapat mencari judul atau informasi buku melalui OPAC. Namun, tidak semua pencarian berakhir hanya dengan menemukan informasi di layar komputer.

    Ada kalanya pengunjung sudah mengetahui bahwa buku yang dicari tersedia, tetapi tetap kesulitan menemukannya di rak. Pada situasi seperti ini, pengunjung sebenarnya tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga membutuhkan bantuan.

    Menurut saya, di sinilah kualitas pelayanan perpustakaan benar-benar terlihat.

    Petugas yang hanya mengatakan bahwa buku tersedia berdasarkan sistem mungkin telah memberikan informasi. Namun, petugas yang kemudian membantu mencari dan memastikan keberadaan buku memberikan pelayanan yang lebih berarti bagi pengunjung.

    Hal tersebut terlihat sebagai pekerjaan sederhana, tetapi dampaknya cukup penting. Pengunjung datang ke perpustakaan bukan hanya untuk mendapatkan informasi mengenai sebuah buku, melainkan untuk mendapatkan akses terhadap pengetahuan yang mereka butuhkan.

    Dengan demikian, keberhasilan pelayanan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah informasi sudah diberikan?” tetapi juga dilanjutkan dengan pertanyaan, “Apakah kebutuhan pengunjung sudah benar-benar terpenuhi?”

    Data yang Tidak Sesuai dan Pentingnya Ketelitian

    Kendala lain juga dapat muncul dalam proses peminjaman, pengembalian, maupun perpanjangan buku. Selama melaksanakan KKL, saya menemukan kondisi ketika data yang muncul setelah barcode buku dimasukkan tidak sesuai dengan nama pengunjung yang melakukan transaksi. Ada pula situasi ketika data buku yang hendak dikembalikan atau diperpanjang tidak langsung ditemukan dalam sistem.

    Situasi seperti ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem digital tetap membutuhkan ketelitian manusia. Petugas tidak dapat langsung menganggap informasi dalam sistem selalu benar tanpa melakukan pengecekan ketika ditemukan ketidaksesuaian.

    Kesalahan dalam data mungkin terlihat kecil, tetapi jika dibiarkan dapat menimbulkan persoalan pada transaksi berikutnya. Karena itu, ketika terjadi ketidaksesuaian, petugas perlu melakukan pemeriksaan kembali dan mencari informasi yang tepat. Apabila diperlukan, persoalan tersebut juga perlu dikomunikasikan kepada rekan kerja atau penanggung jawab agar dapat ditemukan penyelesaian.

    Bagi saya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pelayanan yang efektif bukan berarti memaksakan semua proses agar selesai secepat mungkin. Terkadang, memperlambat proses beberapa saat justru diperlukan untuk memastikan bahwa pelayanan dilakukan dengan benar.

    Cepat Tidak Selalu Berarti Efektif

    Dalam kehidupan sehari-hari, kecepatan sering kali dianggap sebagai ukuran pelayanan yang baik. Semakin cepat sebuah urusan selesai, semakin baik pelayanan tersebut dinilai.

    Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Pengunjung tentu mengharapkan pelayanan yang tidak berbelit-belit dan tidak membuang waktu. Namun, pengalaman saya selama KKL membuat saya melihat bahwa kecepatan hanyalah salah satu bagian dari efektivitas pelayanan.

    Bayangkan jika proses pengembalian buku dapat dilakukan dalam waktu sangat singkat, tetapi data pengembaliannya ternyata tidak tercatat dengan benar. Atau sebuah buku dapat ditemukan dengan cepat, tetapi informasi yang diberikan mengenai status buku ternyata keliru. Pelayanan memang cepat, tetapi kebutuhan pengunjung belum tentu terpenuhi dengan baik.

    Karena itu, menurut saya, pelayanan yang efektif harus mempertemukan kecepatan dan ketepatan.

    Kecepatan membuat pengunjung merasa prosesnya mudah. Ketepatan memberikan kepastian bahwa kebutuhan mereka benar-benar ditangani dengan benar.

    Dalam konteks ini, penggunaan INLISLite dan OPAC perlu didukung oleh ketelitian petugas, komunikasi yang baik, serta kesiapan untuk melakukan pengecekan apabila terjadi kendala. Teknologi dapat membantu mempercepat proses, tetapi kualitas pelayanan tetap sangat bergantung pada orang yang menjalankannya.

    Perpustakaan yang Berorientasi pada Pengunjung

    Pengalaman KKL membuat saya memahami bahwa pelayanan perpustakaan tidak berhenti pada peminjaman dan pengembalian buku. Di balik setiap transaksi terdapat proses pencatatan, pengecekan data, penataan koleksi, pencarian buku, serta komunikasi dengan pengunjung.

    Semua proses tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan pengunjung memperoleh pelayanan yang mereka butuhkan.

    Karena itu, saya berpandangan bahwa perpustakaan perlu terus mengembangkan pelayanan yang berorientasi pada pengunjung. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk membuat proses lebih praktis, tetapi pada saat yang sama petugas tetap perlu memiliki ketelitian dan kemampuan berkomunikasi.

    Pengunjung yang datang ke perpustakaan mungkin tidak selalu memahami sistem yang digunakan. Mereka juga tidak selalu mengetahui letak koleksi atau memahami mengapa sebuah transaksi mengalami kendala. Dalam situasi tersebut, petugas menjadi penghubung antara sistem perpustakaan dan kebutuhan pengunjung.

    Pelayanan yang baik bukan hanya membuat pekerjaan petugas menjadi lebih mudah, tetapi juga membuat pengunjung merasa dibantu.

    Dari Pengalaman KKL, Sebuah Pelajaran tentang Pelayanan

    Sebelum melaksanakan KKL, saya melihat pelayanan perpustakaan terutama dari apa yang tampak di hadapan pengunjung. Setelah terlibat langsung di dalamnya, saya menyadari bahwa pekerjaan pelayanan memiliki banyak proses yang tidak selalu terlihat.

    Saya belajar bahwa menata buku dengan benar, memastikan data tercatat, mencari koleksi yang tidak ditemukan, memeriksa ketidaksesuaian informasi, dan membantu pengunjung merupakan bagian dari satu rangkaian pelayanan yang saling berkaitan.

    Dari pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa pelayanan perpustakaan yang efektif bukanlah pelayanan yang sekadar cepat, melainkan pelayanan yang mampu menyelesaikan kebutuhan pengunjung secara tepat.

    Teknologi seperti INLISLite dan OPAC dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi pelayanan. Namun, teknologi tetap membutuhkan ketelitian dan pengawasan manusia. Prosedur juga diperlukan agar pelayanan berjalan tertib, tetapi prosedur seharusnya tidak membuat pelayanan kehilangan sisi kemanusiaannya.

    Pada akhirnya, keberhasilan sebuah perpustakaan tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya buku yang tersedia atau kecanggihan sistem yang digunakan. Keberhasilan juga dapat dilihat dari pengalaman pengunjung ketika mereka datang: apakah mereka mudah menemukan informasi, apakah mereka mendapatkan bantuan ketika mengalami kesulitan, dan apakah kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi.

    Bagi saya, pengalaman KKL di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bogor memberikan satu pemahaman penting: perpustakaan yang baik bukan hanya perpustakaan yang memiliki banyak koleksi dan teknologi, tetapi perpustakaan yang mampu menjadikan teknologi, prosedur, koleksi, dan sumber daya manusia bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

    Sebab pada akhirnya, tujuan utama pelayanan bukan sekadar menyelesaikan transaksi, tetapi memastikan bahwa setiap pengunjung pulang dengan kebutuhan informasi yang lebih dekat kepada jawabannya.